Connect with us

Di Hadapan Warga Luwu, NH Ceritakan Lagi Kasus yang Pernah Menjeratnya

Election

Di Hadapan Warga Luwu, NH Ceritakan Lagi Kasus yang Pernah Menjeratnya

POLITIKINI.ID – Dalam acara silaturahmi calon Gubernur Sulsel usungan Partai Golkar Nurdin Halid (NH) dengan tokoh masyarakat dan pemuda di Desa Morante, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Senin (17/4/2017) malam, seorang warga bernama Asrul mempertanyakan kasus yang pernah menjerat NH.

Asrul mempertanyakan kasus dugaan penyelundupan gula impor ilegal 73 ribu ton dan dugaan korupsi dalam distribusi minyak goreng Koperasi Distribusi Indonesia (KDI) yang membuat NH ditahan. “Sebenarnya apa yang terjadi soal kasus beberapa tahun silam, ” tanya Asrul

Dengan santai NH kemudian menjawab pertanyaan itu. Dia membeberkan bahwa kasus tersebut terjadi akibat ulah para kartel alias pihak yang menetapkan harga untuk membatasi suplai dan peredaran suatu barang.

“Tuduhan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sudah dicabut laporannya. Tapi mereka kembali menuntut saya. Dan akhirnya saya dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan kasus tersebut oleh Pengadilan Negeri. Jaksa kembali tidak terima dan mengajukan kasasi ke MA (Mahkamah Agung) kini akhirnya menyatakan saya bebas,” bebernya.

NH menjelaskan kasus yang menjeratnya itu akibat ulah kartel yang bermain di atas kepentingan kelompok tertentu.

Namun dakwaan itu ditolak majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta. Namun kelompok kartel tersebut tidak puas dan kembali menjalankan aksinya. Hingga pada 2005, Berita Acara Pidana (BAP) perkara itu dinilai cacat hukum.

Ketua Golkar Sulsel ini juga menjelaskan mengenai kasus dugaan impor gula ilegal dan pelanggaran kepabeanan impor beras. Dia bercerita para kartel ini ternyata tidak puas lalu memunculkan lagi kasus gula impor ilegal dan pelanggaran kepabeanan impor beras.

“Saya kemudian kembali dituntut lagi oleh para kartel dalam kasus gula impor ilegal dan pelanggaran kepabeanan impor beras. Sangat lah sulit orang-orang yang berdiri berjuang demi pembangunan rakyat, selalu saja ada kelompok kartel yang memanfaatkan hal ini,” tegasnya.

Setelah menjabat sebagai Ketua KDI, ia sempat dibebankan utang sebanyak Rp 700 milyar untuk mengelolah Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud).

“Syukur setelah saya yang mengelolahnya, sudah mengalami penurunan mencapai Rp 500 milyar dan bahkan sekarang hingga sekarang Rp 100 milyar, ” jelas NH.

Pada 1999, NH kemudian hijrah ke Jakarta dan sedih melihat harga minyak goreng yang membumbung tinggi. Sehingga terjadi krisis pada saat itu, ibu-ibu kemudian menjerit bagaimana susahnya mendapatkan minyak goreng.

“Saya kemudian menyiasati dengan membangun 3000 tangki minyak yang ada di Indonesia. Alhamdulillah. Harga minyak goreng dari Rp. 8.300 akhirnya turun menjadi Rp.2.500,” jelasnya.

“Saat itu pula saya berhasil melawan Kartel yang bermain dalam proses pendistribusian harga minyak goreng.” beber NH dihadapan ratusan warga yang menghadiri acara silaturahmi dan pelantikan tim pemenangan itu.

Comments

More in Election

To Top