POLITIKINI >> > Pilgub Sulsel >> Menjawab Keraguan atas Survey CSIS di Pilgub Sulsel

Menjawab Keraguan atas Survey CSIS di Pilgub Sulsel

17 Mei 2018 11:49
Menjawab Keraguan atas  Survey CSIS di Pilgub Sulsel ilustrasi

POLITIKINI.ID - Belum lama ini, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia merilis hasil survei elektabilitas empat kandidat pilgub Sulsel 2018. Hasilnya, pasangan nomor urut 1, Nurdin Halid-Aziz Qahhar (NH-Aziz) unggul dengan tingkat elektabilitas 30,6 persen.

Selanjutnya, pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman (Prof Andalan) diposisi kedua dengan 21,2%, terpaut tipis dari pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) dengan 20,7%. Sementara Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL) dengan 9,9%. 

Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes, mengatakan salah satu factor Nurdin Halid-Aziz Qahhar unggul dari 3 paslon lainnya yakni faktor solidaritas Partai Golkar sebagai partai pengusung.

Hasil survei tersebut tentu saja tak luput dari pro kontra. Ada pihak-pihak paslon di Pilgub yang tak unggul dalam survey tersebut, lalu menyebut survei CSIS sulit dipercaya karena terdapat keanehan di dalamnya. 

Misalnya, lamanya waktu pengambilan data, tingkat pengenalan kandidat tidak wajar karena dalam survey yang lain angkanya tidak seperti yang dirilis, serta eksplorasi masalah di Sulsel yang kurang lengkap.

Namun sayangnya, kritikan yang dipost di salah satu media online itu, tidak meminta klarifikasi resmi dari CSIS. Sesuai prinsip cover both side dalam dunia jurnalistik, seharusnya pihak yang dikritik atau disoroti memiliki hak jawab atas konten pemberitaan.

Kritikan itu juga dinilai tak berdasar dan tidak dapat digunakan untuk “menghakimi” hasil survey. Penggunaan waktu pengambilan data, misalnya, adalah hal yang relatif dan bergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan geografis objek penelitian. Tidak dapat dibandingkan antara proses survey yang satu dengan yang lainnya.

Demikian juga soal angka tingkat pengenalan kandidat. Jika menganggap kritikan itu benar, maka dapat dikatakan tak satupun hasil lembaga survey yang dapat dipercaya karena dalam sejarah lembaga survey, tak pernah ada lembaga survey yang merilis hasil penelitian yang sama persis dengan lembaga survey lainnya.

Sementara itu, sejumlah pengamat menilai keunggulan NH-Aziz di Pilgub Sulsel adalah hal yang wajar. Pengamat politik Universitas Hasanuddin, Irawan Amiruddin menilai beberapa faktor keunggulan pasangan itu karena ketokohan NH-Aziz dan kerja tim partai dan relawan yang solid.

Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie juga mengatakan hal senada melalui siaran persnya di Jakarta, Minggu (11/5).

"Saya melihat peluang Nurdin Halid untuk menang cukup besar. Dari akhir tahun lalu saya sudah memprediksi hal ini. NH-Aziz pasangan yang punya chanel di pusat, jadi warga Sulsel melihat disana," ujar dia.

CSIS tidak sesering lembaga survei lain dalam mempublikasikan hasil penelitiannya. Bahkan, dalam beberapa gelaran politik terakhir – misalnya di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu – CSIS tidak begitu terlihat, walaupun sempat pula mengeluarkan beberapa survei. Namun, hasil penelitian lembaga ini seringkali dipakai sebagai rujukan, mengingat kiprah CSIS yang hampir satu abad berdiri di Indonesia.

Hal itu membuktikan, CSIS bukan lembaga partisan seperti yang disangkakan. Arya Fernandes menegaskan survey yang dilakukan lembaganya itu bersifat independen dan objektif, tidak berafiliasi dengan salah kandidat atau partai manapun.

“CSIS tidak berafiliasi dengan partai dan kandidat mana pun. Kemudian proses kontrolnya juga ketat makanya, periode survei cukup ketat hampir 14 hari,” tandas Arya Fernandes

Dilansir dari Wikipedia, CSIS yang didirikan pada 1971 ini adalah sebuah institusi independen dan bipartisan yang melakukan penelitian kebijakan dan analisis strategis dalam politik, ekonomi, dan keamanan.

CSIS juga aktif terlibat dalam kerja sama internasional, termasuk menjadi tuan rumah untuk Komite Nasional Indonesia untuk Kerja Sama Ekonomi Pasifik (Indonesian National Committee for Pacific Economic Cooperation - INCPEC) untuk Dewan Kerja Sama Ekonomi Pasifik (Pacific Economic Cooperation Council - PECC). CSIS juga merupakan salah satu lembaga pendiri Dewan Kerja Sama Eropa Asia (Council for Asia Europe Cooperation - CAEC).

CSIS menerbitkan berbagai buku dan monograf penelitian dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, seperti The Indonesian Quarterly (sejak 1972), Analisis CSIS (sejak 1971). CSIS bekerja sama dengan Proyek Indonesia dari Universitas Nasional Australia(ANU) untuk menerbitkan dan mendistribusikan Bulletin of Indonesian Economic Studies (BIES). Dapat dikatakan, sangat sedikit lembaga survey yang se-produktif CSIS dalam penelitian sosial ekonomi politik.

Tag:
img
Bergabung bersama kami di media sosial
Back to top