POLITIKINI >> > KATA PENGAMAT >> Agus - TBL, Kuda Hitam di Pilgub Sulsel

Agus - TBL, Kuda Hitam di Pilgub Sulsel

11 Januari 2018 12:21
Agus - TBL, Kuda Hitam di Pilgub Sulsel Dr Rahmad M Arsyad

POLITIKINI.ID - Nama Agus Arifin Nu'mang sudah cukup populer oleh warga Sulawesi Selatan. Wajar karena dia hampir 10 tahun menjadi Wakil Gubenur Sulsel. Kejutan-kejuatan yang dibuatnya dalam meraih tiket di Pilkada Gubernur Sulsel 2018 akhirnya menjadi pembuktian diri bila dia tak boleh diragukan. 

Sang petahana ini mengaet Tanribali Lamo (TBL) sebagai pasangannya. TBL adalah 
Purnawirawan dengan pangkat Mayjen TNI dan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Selain itu, dia adalah wakil ketiga Agus dalam perjuangannya melanjutkan asa lima tahun ke depan. 

Dua wakil yang sempat bersama Agus adalah srikandi dari Partai Demokrat. Pertama, Aliyah Mustika Ilham (AMI), anggota DPR RI yang juga istri dari mantan Walikota Makassar Ilham Arif Sirajuddin (IAS). Diketahui, IAS pernah menjadi rival Agus di Pilgub 2013 lalu. Namun dipertengahan jalan AMI dan Agus bercerai. 

Kemudian, Andi Nurpati kepencut berpasangan dengan suami dari Majdah Agus, Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) itu. Disini, pasangan ini berniat maju di jalur independen. Niatan itu dibuktikan dengan dipamerkannya sejumlah box yang diperkirakan berisi berkas dukungan pada akhir November 2017.  

Sementara TBL sebelum berpasangan dengan mantan Ketua DPRD Sulsel itu, merupakan pendamping dari bakal calon gubernur Nurdin Abdullah (NA). TBL 'diceraikan' NA karena dianggap TBL tidak laku 'dijual' di partai politik. NA kini berpasangan dengan Andi Sulaiman Sudirman (ASS), adik dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman. 

Direktur Bidang Riset Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC) Dr. Rahmad M.Arsyad melihat konstalasi Pilgub Sulsel berjalan dinamis. "Menarik sekali, lolosnya Agus, " kata Dr Rahmad kepada politikini.ID, Rabu, 11 Januari 2018. 

Menurutnya lolosnya Agus-TBL membuat Pilkada Sulsel semakin dinamis, utamanya jika dilihat dari keterwakilan geopolitik dan struktur politik. 

"Kehadiran pasangan ini sedikit banyaknya akan mengiris tiga irisan (pemilih dan basis) calon lain, " terangnya. 

Ada dua indikator amatan menurut dia. Pertama, dukungan dari tim pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang) pada Pilkada Gubernur 2008 lalu dan Sayang Jilid II (Pilgub 2013). 

Kedua, lanjut Dr Rahmad, kehadiran TBL juga mampu mengiris dukungan politik di daerah Bosowa (Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo) dan sekitarnya sekaligus membela barisan relawan NA. Pasalnya infrastruktur tim NA dibangun bersama TBL, sebelumnya. 

"Mengiris dukungan politik yang sebelumnya seperti daerah Bosowa dsb setelah kehadiran TBL sekaligus barisan relawan NA." 

Dia juga menyebut, pasangan Agus-TBL bisa menjadi kuda hitam diantara polarisasi kekuatan politik pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) dan pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz). Sekaligus menjadi pasangan alternatif di basis pendukung dari kakak Ichsan Yasin Limpo (IYL), yakni Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL). 

"Bisa saja, jika dilihat berdasarkan preferensi pemilih Pasangan Sayang, " kata pengajar di Universitas Bina Nusantara Jakarta ini.

Selain itu, tantangan terbesar pasangan Agus-TBL adalah konsolidasi dan sosialisasi yang segara harus dilakukan ke pemilih. "Pembangunan struktur relawan dan penguatan pada preferensi isu yang tajam dan bisa diterima pemilih, " kata Dr Rahmad lagi. 

Menurutnya tantangan itu harus segara teratasi agar posisinya sebagai kuda hitam tidak menjadi anomali politik saja. "Kecepatan dalam membangun struktur politik karena kandidat lain sudah lebih dahulu bekerja. Kedua, membentuk kepercayaan publik atas figur dan program mereka, " harapnya.

Diketahui, pasangan Agus-TBL memberi kejutan di menit-menit terakhir pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur di KPU Sulsel, 10 Januari 2018. Mereka sukses mengantongi surat rekomendasi model B1-KWK dari PPP hingga dinyatakan lolos dalam pendaftaran itu. 

Namun diketahui PPP sejak awal menegaskan tidak akan meninggalkan pasangan IYL-Cakka, walau maju di jalur perseorangan. 

Pasangan dengan tagline BagusTa ini akhirnya memenuhi syarat minimal 17 kursi usungan. Kekuatan kursi itu berasal dari partai Gerindra (11 kursi), PBB (1 kursi) dan PPP (7 kursi) dengan total 18 kursi.

Tag:
img
Bergabung bersama kami di media sosial
Back to top